Fokus

Anwar Abbas: Pandemi Sejatinya Semakin Meningkatkan Keimanan Ummat

Dari Webinar Pemulihan Kehidupan Ummat di Masa Pandemi (1)

FOKUS, muisulsel.com — Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Webinar Perspektif Kesehatan untuk Pemulihan Kehidupan Masyarakat di Masa Pandemi Berbasis Fatwa Majelis Ulama, Sabtu (23/10/2021).

Seminar tersebut dipercayakan kepada MUI Sulsel sebagai host dan menghadirkan berbagai narasumber yang kompoten. Dalam sambutannya Ketua MUI Sulsel Prof Dr KH Nadjamuddin HA Safa Lc MA mengatakan kesehatan merupakan salah satu dari lima hal yang wajib dijaga.

Maka untuk memastikan tetap terjaganya kesehatan seiring semakin menurunnya angka penderita Covid19, KH Nadjamuddin berharap segera ada kepastian terkait sudah boleh atau belum masyarakat merapatkan shaf shalat berjamaahnya.

“Masyaraat sepertinya sudah mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa terkait meredanya pandemi. Fatwa MUI ditunggu untuk pegangan masyarakat saat keadaan membaik. Apalagi ada pengurus MUI ousat yang sudah mengisyaratkan boleh merapatkan shaf shalat,” urainya.

Berikut ulasan bersambung yang disarikan oleh reporter muisulsel.com Irfan Abbas dari uraian narasumber pada webinar yang dihadiri seratusan peserta tersebut. Bagian pertama ulasan ini dari pemaparan Dewan Pengurus MUI Pusat KH Dr Anwar Abbas MA.

—■■■—

Masalah Covid sejatinya kita tidak boleh melihatnya hanya dari sudut ilmiah saja tapi harus dilihat secara teologis atau keimanan. Sebagaimana orang barat hanya melihat dari sudut pandang medis saja. Umat Islam harus memahami bawa musibah ini sudah menjadi ketetapan ilahi sehingga bertambahlah keimanan.

Rasulullah pernah bersabda, “Apabilah kamu mendengar suatu wabah di daerah lain maka kamu jangan memasuki tempat tersebut dan jika kamu berada di daerah yang terserang wabah maka jangan kamu keluar” (HR Al-Bukhari).

Misalnyaa orang di Jakarta tidak boleh keluar ke daaerah lain dan orang yang dari luar tidak boleh masuk ke Jakarta. Inilah aturan dari Rasullah sebelum adanya ilmu medis berkembang dan terbukti sangat relevan dengan situasi sekarang tentang pengendalian Covid.

Jika masyarakat menngisolasi diri maka wabah tak akan menular. Itulah yang harus dipraktekkan, tetapi ini berdampak buruk terhadap perekonomian masyarakat terutama sumber mata pencaharian. Inilah yang membuat pemrrintah sangat dilematis dan terombang ambing.

Sopir taksi mengeluh karena pendapatan berkurang bahkan tidak ada pendapatan oleh karena kebijakan isolasi. Disi lain pemerintah harus segera mengambil langkah cepat untuk masalah ini ketika memberlakukan isolasi dan tentunya ini sangat dilematis.

Jika ini berlarut-larut akan menimbulkan gejolak sosial dan jadi isu politik. Di sisi lain peran umat Islam sangat besar dalam menangani krisis ini. Kesadaran bersedekah bagi yang kurang mampu sangat tinggi sehingga kekurangan ekonomi bisa tertolongi. Hal ini tak lain karena pemahaman Islam bahwa tidaklah beriman seseorang jika ada tetangganya kelaparan. Perintah harus berterimakasi banyak pada peran sedekahnya umat Islam.

Ummat di Indonesia mempunyai program zakat dan infak untuk membantu kaum miskin. Pemerintah harus berterimakasi kepada ummat muslim atas sedekah yang disalurkan sehingga bisa meringankan beban pemerintah yang sejatinya bertangungjawab mensejahterakan warga negara.

Kita berharap Covid ini cepat berlalu dan kehidupan berjalan dengan normal kembali. Kita harus bersikap relijus sekaligus ilmiah memandang dan menghadapi pandemi yang terjadi saat ini sehingga keimanan kita makin bertambah.■ bersambung

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.